Beda Oli Kompresor Sekrup dan Piston

Di gudang bengkel, dua drum oli kompresor berdiri bersebelahan: satu ISO VG 46, satu ISO VG 100. Keduanya berlabel oli kompresor, dan godaan untuk memakai mana saja yang tersedia selalu ada. Padahal keduanya ditujukan untuk mesin yang cara kerjanya berbeda sama sekali.

Artikel ini menjelaskan mengapa kompresor sekrup dan kompresor piston memerlukan oli berbeda, apa akibatnya bila tertukar, dan bagaimana menentukan yang tepat untuk unit Anda.

Dua cara memampatkan udara

Kompresor sekrup memampatkan udara di antara dua rotor berulir yang berputar berlawanan arah. Pada tipe yang paling umum dipakai di industri, oli disemprotkan langsung ke dalam ruang kompresi. Oli itu menutup celah antar rotor agar udara tidak bocor balik, menyerap panas kompresi, sekaligus melumasi bantalan. Setelah itu campuran udara dan oli masuk ke tangki pemisah, oli dipisahkan lalu didinginkan dan disemprotkan kembali.

Kompresor piston bekerja seperti mesin kendaraan: piston bergerak naik-turun di dalam silinder, memampatkan udara lalu mendorongnya keluar melalui katup buang. Oli melumasi dinding silinder, ring, dan bantalan poros engkol. Hanya sebagian kecil oli yang ikut terbawa udara, tetapi bagian kecil itulah yang menghadapi kondisi paling berat.

Perbedaan cara kerja ini melahirkan tuntutan yang berlainan terhadap olinya.

Apa yang dituntut dari oli kompresor sekrup

Oli pada kompresor sekrup bersirkulasi terus-menerus dan bercampur dengan udara panas sepanjang jam operasi. Suhu buangnya umumnya berada di kisaran 80 sampai 100 °C — tidak setinggi kompresor piston, tetapi paparannya berlangsung tanpa henti.

Karena itu sifat yang paling dituntut adalah:

  • Mudah dipisahkan dari udara. Bila oli sulit terlepas, ia terbawa keluar bersama udara bertekanan, mengotori jaringan pipa dan menaikkan konsumsi oli.
  • Tidak mudah berbusa. Busa mengurangi kemampuan oli menyerap panas dan mengganggu kerja tangki pemisah.
  • Memisahkan air dengan cepat. Udara yang dimampatkan selalu membawa uap air yang mengembun di dalam sistem.
  • Umur pakai panjang. Karena oli terus bersirkulasi, ketahanan oksidasi menentukan berapa lama ia bisa dipakai.

Kekentalannya juga harus cukup encer agar mudah disemprotkan dan mudah dipisahkan. Karena itu kompresor sekrup umumnya memakai ISO VG 46, atau VG 32 untuk unit kecil dan VG 68 untuk beban berat di ruangan panas.

Apa yang dituntut dari oli kompresor piston

Pada kompresor piston, tantangan terbesar terjadi di katup buang. Udara yang baru dimampatkan bisa mencapai suhu jauh di atas 150 °C, dan lapisan tipis oli yang ikut terbawa ke sana terpapar panas tersebut secara langsung.

Bila oli tidak tahan terhadap kondisi itu, ia akan meninggalkan endapan karbon di sekitar katup dan saluran buang. Endapan ini menumpuk perlahan, membuat katup tidak menutup sempurna, menaikkan suhu lebih jauh lagi, dan pada kasus yang parah dapat menjadi bahan bakar bagi kebakaran di saluran udara bertekanan. Ini bukan sekadar persoalan efisiensi, melainkan persoalan keselamatan.

Selain itu, dinding silinder memerlukan lapisan film yang lebih tebal untuk menahan gesekan piston. Karena itu kompresor piston umumnya menyaratkan ISO VG 100 ke atas, bukan VG 46.

Perbandingan ringkas

Aspek Kompresor sekrup Kompresor piston
Grade umum ISO VG 32–68 ISO VG 100 ke atas
Peran oli Melumasi, menyekat celah rotor, mendinginkan Melumasi silinder, ring, dan bantalan
Kontak dengan udara panas Terus-menerus, suhu sedang Sebagian kecil, suhu sangat tinggi
Risiko utama Oli terbawa keluar, separator cepat jenuh Deposit karbon di katup buang
Sifat paling dituntut Pelepasan udara dan ketahanan oksidasi Kecenderungan membentuk karbon yang rendah

Kalau tertukar, apa yang terjadi

Oli VG 46 dipakai pada kompresor piston

Lapisan film pada dinding silinder menjadi terlalu tipis untuk menahan gesekan piston. Gejalanya berupa konsumsi oli yang meningkat, ring yang lebih cepat aus, dan kompresi yang perlahan menurun. Karena oli lebih encer, lebih banyak pula yang terbawa ke sisi buang dan berpotensi menambah endapan.

Oli VG 100 dipakai pada kompresor sekrup

Oli yang terlalu kental lebih sulit dipisahkan dari udara, sehingga elemen pemisah bekerja lebih berat dan cepat jenuh. Gesekan internal fluida juga naik, yang berarti suhu operasi ikut naik dan konsumsi listrik bertambah. Penggantian elemen pemisah bukan pekerjaan murah, sehingga penghematan dari memakai oli seadanya biasanya tidak sepadan.

Catatan untuk kompresor bebas oli

Sebagian kompresor sekrup dirancang tanpa oli di ruang kompresinya, biasanya untuk industri makanan, farmasi, atau elektronik yang menuntut udara benar-benar bersih. Meski begitu, unit tersebut tetap memiliki gearbox dan bantalan yang memerlukan pelumas khusus dengan spesifikasi tersendiri.

Jangan menyamakan kebutuhan oli kompresor bebas oli dengan kompresor sekrup biasa. Selalu ikuti spesifikasi pabrikan untuk jenis ini.

Memilih antara mineral, semi sintetik, dan sintetik

Setelah jenis kompresor dan grade kekentalan ditentukan, pertimbangan berikutnya adalah jenis bahan dasarnya. Pegangan sederhananya:

  • Mineral memadai untuk kompresor dengan jam operasi menengah dan ruangan berventilasi baik.
  • Semi sintetik layak dipilih bila unit bekerja hampir sepanjang hari dan Anda ingin memperpanjang jarak antar penggantian.
  • Sintetik paling masuk akal untuk kompresor yang beroperasi nyaris tanpa henti, berada di ruangan panas, atau ketika biaya penghentian produksi untuk perawatan jauh lebih mahal daripada selisih harga olinya.

Pilihan lengkapnya dapat dilihat pada katalog oli kompresor kami, tersedia dalam ketiga jenis bahan dasar tersebut.

Jangan mencampur jenis yang berbeda

Mencampur oli mineral dengan sintetik di dalam kompresor sekrup berisiko membentuk endapan yang menyumbat elemen pemisah. Bila hendak beralih jenis, kuras sistem sampai bersih, ganti filter oli, dan ganti pula elemen pemisahnya. Menyisakan oli lama dalam jumlah besar akan menghapus keuntungan yang seharusnya Anda dapat dari oli baru.

Tanda oli kompresor sudah waktunya diganti

  • Warna berubah gelap disertai bau seperti gosong
  • Konsumsi oli meningkat tanpa ada kebocoran yang terlihat
  • Suhu operasi merangkak naik dari angka biasanya
  • Elemen pemisah lebih cepat jenuh dibanding siklus sebelumnya
  • Terbentuk endapan atau lapisan lengket saat tangki dibuka

Bila beberapa tanda muncul bersamaan jauh sebelum jam operasi tercapai, periksa juga kebersihan filter udara masuk dan suhu ruangan — keduanya adalah penyebab paling umum oli menua lebih cepat dari semestinya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bolehkah memakai oli hidrolik untuk kompresor?

Tidak dianjurkan meski angka ISO VG-nya sama. Oli hidrolik mengandung aditif anti-aus yang dapat meninggalkan endapan ketika terpapar suhu buang kompresor, dan tidak diuji untuk kemampuan melepaskan udara sebagaimana dituntut kompresor sekrup.

Bolehkah memakai oli mesin untuk kompresor piston?

Sebagian kompresor piston kecil model lama memang menyaratkan oli non-detergen dengan kekentalan tertentu, dan untuk unit semacam itu ikuti manualnya. Namun oli mesin modern mengandung deterjen dan dispersan dalam jumlah besar yang justru menahan kotoran tetap melayang di dalam oli — sifat yang berguna di mesin, tetapi merugikan di kompresor. Untuk unit yang menyaratkan oli kompresor, gunakan oli kompresor.

Bagaimana bila pelat spesifikasi unit sudah tidak terbaca?

Mulai dari jenis kompresornya. Sekrup mengarah ke VG 32 sampai 68, piston ke VG 100 ke atas. Setelah itu pertimbangkan suhu ruangan dan jam operasi harian. Bila masih ragu, kirimkan foto unit atau tipe mesinnya kepada kami — dalam banyak kasus tipe mesin saja sudah cukup untuk memastikan.

Menentukan pilihan

Kirimkan jenis dan tipe kompresor Anda beserta perkiraan jam operasi hariannya, dan kami bantu tentukan grade serta jenis oli yang sesuai, termasuk mengirimkan lembar spesifikasi teknis untuk Anda cocokkan dengan persyaratan pabrikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top